Showing posts with label Endangered Species. Show all posts
Showing posts with label Endangered Species. Show all posts

Sunday, 10 February 2019

Kucing Batu

Kucing batu atau disebut marbled cat (pardofelis marmorata) merupakan hewan yang sangat dicari karena sudah sangat langka keberadaannya. Lewat kegigihan beberapa peneliti hewan langka yang hidup di Pulau Kalimantan dan Sumatera itu akhirnya bisa terekam penampakannya melaluli lensa kamera pengintai.


Kucing batu (Pardofelis marmorata) adalah kucing liar kecil dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sejak 2002, ia terdaftar dalam spesies rentan olhe IUCN seperti yang terjadi kepadatan yang rendah, dan ukuran total populasi efektif diduga kurang dari 10000 individu dewasa, dengan tiada populasi tunggal berjumlah lebih dari 1000.

Beberapa informasi soal kucing batu yang diketahui selama ini:
Panjang tubuh kucing batu berkisar antara 45-62 cm dengan panjang ekor 35-55 cm dan tubuh seberat 2-5 kg.

Kucing batu pun memiliki ekor yang panjang dan berbulu sangat tebal. Ukuran dan bentuk ekor ini mempunyai fungsi sebagai penjaga keseimbangan ketika kucing batu bergerak di dahan atau ranting pohon. Selain itu, kedua pasang kakinya besar dan kokoh.

Populasi kucing batu tersebar di kawasan Indomalaya, terbentang dari timur India, Nepal, China sampai Asia Tenggara di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Di seluruh dunia populasinya diperkirakan sekitar 10.000 ekor.

Spesies ini dulunya dianggap milik garis keturunan pantherine dari "kucing besar". Analisis genetik menunjukkan bahwa ia erat kaitannya dengan Kucing emas dan kucing merah, yang semuanya yang menyimpang dari felid lain sekitar 9.4 juta tahun yang lalu.

Para peneliti selama ini kesulitan untuk bisa menemukan kucing batu. Pergerakannya yang gesit dan lincah di saat gelap (hewan nokturnal yang bergerak mencari makan saat malam), membuat informasi tentang si kucing belum terlalu banyak, terutama soal populasinya. Karena itu, tim peneliti memasang kamera pengintai.

Lewat proses pemantauan yang berlangsung berbulan bulan di pedalaman hutan Kalimantan, akhirnya hewan berkulit seperti macan tutul itu bisa terekam kamera. Para peneliti menemukan hewat tersebut di area hutan 'perawan', hutan yang sudah dieksploitasi manusia dan hutan tinggi di pegunungan.

Data ini cukup penting untuk mengetahui cara perlindungan bagi hewan langka tersebut. Sekadar informasi, kucing batu sudah masuk dalam 'daftar merah' atau terancam punah di International Union for Conservation of Nature's (IUCN). Dalam daftar hewan langka di PP No 7 Tahun 1999, kucing batu masuk dalam daftar dengan nama Kuwuk.


Selain untuk perlindungan, para peneliti juga penasaran dengan perilaku kucing batu. Terutama jenis makanannya. Andrew Hearn, kandidat doktoral dari Wildlife Conservation Research Unit di University of Oxford Inggris menyatakan, dalam penelitian itu memperlihatkan kucing batu sedang memburu seekor burung dan primata kecil.

Kucing Bakau

Fishing cat (Prionailurus viverrius) adalah spesies kucing liar berukuran sedang yang ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 2008, IUCN mengklasifikasikan kucing ini sebagai hewan yang terancam punah karena kucing ini hanya terdapat di daerah yang dekat dengan lahan basah yang sekarang semakin rusak dan banyak yang beralih fungsi.


Meskipun kucing bakau secara luas tersebar melalui berbagai jenis habitat termasuk kedua lahan hijau dan hutan kering tropis, habitat mereka cenderung sangat terbatas.

Beberapa dekade terakhir ini populasi kucing bakau di asia menurun derastis akibat berkurang habitatnya karena ledakan populasi dan penggunaan lahan bakau untuk berbagai keperluan manusia. Seperti kerabat terdekatnya, kucing kuwuk, kucing bakau hidup di sepanjang sungai dan rawa-rawa bakau. Kucing bakau beradaptasi dengan habitatnya dan menjadi perenang yang terampil.

Klasifikasi ilmiah menurut Mukherjee, Sanderson, dkk., (2010) adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia.
Filum               : Chordata
Class                : Mammalia
Ordo                : Carnivora
 Famili              : Felidae
Genus              : Prionailurus
Spesies            : Prionailurus viverrinus

Bulu kucing bakau berwarna olive keabu-abuan dengan bintik-bintik gelap dalam goresan horisontal sepanjang tubuh. Bagian bawah putih, dan bagian belakang telinga berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Ada sepasang garis-garis gelap di sekitar leher, dan sejumlah cincin hitam di ekor.
Ekologi dan Kebiasaan

Kucing bakau hidup soliter dan merupakan hewan nocturnal (hewan malam hari). Mereka sangat banyak di rumah dalam air dan bisa berenang jarak jauh bahkan di bawah air. Kucing bakau betina telah dilaporkan berkisar lebih dari bidang 4-6 km2, sedangkan pada kucing bakau jantan berkisar lebih dari 16 sampai 22 km2.

Kucing bakau dewasa ukurannya sekitar dua kali ukuran kucing domestik, dengan kepala dan tubuh panjang yang biasanya berkisar dari 57-78 cm, dan ekor memiliki panjang berkisar 20 sampai 30 cm. Beberapa individu telah dilaporkan jauh lebih besar hingga 115 cm, panjang kepala sampai badan. Kucing bakau dewasa berat badannya mencapai 5-16 kilogram.

Mereka memiliki tubuh kekar, berotot dengan kaki pendek, dan ekor pendek dari satu setengah sampai sepertiga panjang sisa tubuh hewan. Wajah memanjang dengan hidung jelas datar dan telinga jauh dari muka. Jari-jari kaki pada kaki depan sebagian berselaput, dan ujung-ujung cakar menonjol dari selubung, cakar bahkan sepenuhnya ditarik (Pocock, 1932). Menurut Pocock ( selaput antar jari membantu mereka untuk beradaptasi dilingkungan berlumpur dan berair.

Penyebaran dan Habitat

Daerah Penyebaran kucing bakau memanjang dari Pakistan timur melalui wilayah Terai dari kaki bukit Himalaya di India dan Nepal ke Bangladesh dan di Sri Lanka. Tidak ada catatan valid yang dapat dikonfirmasi dari wilayah Semenanjung Malaysia dan Vietnam.

Pulau Jawa merupakan batas timur dari jangkauan penyebaran habitat mereka, tetapi pada tahun 1990-an keberadaan mereka mulai sangat langka dan tampaknya hanya terbatas pada hutan pasang surut dengan pantai berpasir atau berlumpur. Hal ini dikarenakan banyak sekali hutan-hutan bakau atau mangrove telah banyak yang beralih fungsi sebagai tambak ikan maupun tambak udang.

Pada bulan Maret tahun 2003, seekor kucing bakau tertangkap kamera jebakan yang dipasang dalam proyek “Kulen Promtep Wildlife Sanctuary”, di daerah Kamboja utara dan pada bulan Januari 2008, kehadiran mereka dikabarkan masih eksis di daerah Botum-Sakor .National Park, sebelah barat daya Kamboja (Royan, 2009). Populasi ini juga telah didokumentasikan di Thailand namun tidak ada catatan resmi yang dapat ditemukan dari wilayah Laos (Cutter, 2010)

 Ancaman

Kucing bakau terancam punah karena ketergantungan mereka pada lahan basah, yang terus menerus berkurang dan dikonversi untuk lahan pertanian, dan juga karena manusia mengeksploitasi stok ikan lokal secara berlebihan. Spesies Kucing Bakau karena ancaman-ancaman tersebut diyakini telah punah di Afghanistan, dan mungkin sudah pergi dari Malaysia dan China, dan telah menjadi langka di seluruh sisa jangkauan penyebaran populasi kucing bakau (Mukherjee dan Sanderson, dkk., 2010).

Konservasi

Prionailurus viverrinus dimasukkan pada “CITES Appendix II” (terancam/hampir punah), dan dilindungi oleh undang-undang nasional dan undang-undang disebagian besar daerah penyebaran kucing bakau. Berburu kucing bakau dilarang di Bangladesh, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Thailand. Peraturan Berburu tidak berlaku di Laos, Bhutan, dan Vietnam. Spesies ini tidak dilindungi di luar kawasan lindung (Mukherjee dan Sanderson, dkk., 2010).

Penangkaran


Program penangkaran Kucing bakau telah ditetapkan oleh Asosiasi Kebun Binatang Eropa, dan Aquaria dan Association Kebun Binatang dan Akuarium Amerika. Semua kucing bakau dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia yang tercantum dalam Buku Studi Asosiasi Dunia Kebun Binatang dan Akuarium Internasional (Mukherjee, 1989).

Kucing Merah Kalimantan

Kucing Merah atau yang dalam bahasa latin disebut Pardofelis badia merupakan salah satu spesies kucing kecil endemik pulau Kalimantan. Sayangnya tidak banyak yang mengenal kucing merah yang langka ini. Saya sendiri belum pernah sekalipun melihat Kucing Merah dari kalimantan ini, sekalipun di kebun binatang. Mungkin sobat ada yang pernah melihatnya?


Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Carnivora; Famili: Felidae; Genus: Pardofelis; Spesies: Pardofelis badia; Sinonim; Catopuma badia; Felis badia.
Kucing Merah disebut juga sebagai Kucing Kalimantan atau Kucing Borneo. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Borneo Bay Cat, Bay Cat, Bornean Bay Cat, dan Bornean Marbled Cat. Di Malaysia binatang yang juga menghuni Serawak dan Sabah ini dikenal dengan Kucing Merah. Sedangkan dalam bahasa latin disebut sebagai Pardofelis badia, yang bersinonim dengan Catopuma badia dan Felis badia.

Kucing Merah ini merupakan saudara dekat dan masih satu nenek moyang dengan Kucing Emas (Asian Golden Cat) yang banyak terdapat di Sumatera, dan beberapa negara Asia Tenggara. Diperkirakan kucing endemik kalimantan ini telah ada sejak 4 juta tahun yang silam saat pulau Kalimantan masih bersatu dengan daratan Asia.

Ciri-ciri dan Perilaku.

Kucing Merah (Borneo Bay Cat) mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun ada varian yang berwarna keabu-abuan. Bagian bawah tubuh Kucing Kalimantan berwarna lebih pucat daripada bagian atas. Terdapat garis warna merah kecokelatan agak muda pada kening dan pipi. Telinga kucing langka ini berwarna hitam atau cokelat tua, dan pada ekor bergaris putih dengan bintik hitam diujung ekor. Kucing Merah mempunyai tubuh ramping memanjang dengan panjang sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya berkisar 35 cm. Kucing Merah  (Borneo Bay Cat) mempunyai berat tubuh antara 2,3 -4,5 kg.

Belum banyak yang dapat digali tentang perilaku kucing endemik Kalimantan yang langka ini. Kucing Merah (Pardofelis badia) termasuk binatang nokturnal yang banyak beraktifitas di malam hari untuk memburu burung, tikus, dan monyet. Selain seekor pemburu, Kucing Merah (Catopuma badia) juga memakan bangkai-bangkai binatang yang terdapat di hutan.

Kucing Merah (Borneo Bay Cat) menginjak dewasa dan matang secara seksual pada usia antara 18-24 bulan. Kucing endemik kalimantan ini mempunyai masa kehamilan sekitar 70-75 hari dengan melahirkan 1-3 ekor anak dalam sekali masa kehamilan. Habitat, Populasi, dan Konservasi. Kucing Merah Kalimantan (Pardofelis badia), hanya terdapat di pulau Kalimantan (Indonesia dan Malaysia) saja.

Kucing ini mendiami hutan-hutan tropis dataran rendah yang lebat hingga ketinggian 900 meter dpl. Populasi kucing langka ini sampai sekarang tidak diketahui dengan pasti. Karena itu 2002 Kucing Merah (Borneo Bay Cat) dikategorikan dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah) oleh IUCN Redlist. Dan juga dimasukkan dalam Apendiks II CITES. Di Indonesia dan Malaysia, Kucing Merah termasuk binatang yang dilindungi dari kepunahan.


Golden Cat

Kucing Emas biasa di sebut Golden cat atau Fire cat, hewan ini termasuk salah satu hewan yg ikut dikampanyekan untuk dicegah kepunahannya. Kucing emas (Catopuma temminicki) merupakan salah satu dari tujuh jenis kucing yang hidup di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ciri utama dari Kucing Emas adalah hampir seluruh tubuhnya berwarna cokelat ke emas-emasan (sesuai namanya) tetapi ada juga yg berwarna abu-abu atau coklat tua.


Adalah jenis yang misterius dan sangat sulit di jumpai saat ini, sedikit sekali pengetahuan mengenai perilaku dan ekologi kucing jenis ini, termasuk populasi mereka di dalam kawasan. Pola hidup satwa ini belum diketahui secara jelas tidak seperti jenis kucing hutan lainnya. Kucing emas ini hidup tersebar dari daerah Tibet, Nepal, Cina, Burma, Thailand sampai Indocina, Malaysia, Sumatera, dan juga Afrika. 

Ciri-ciri lain dari kucing emas ini memiliki berat rata-rata untuk ukuran kucing dewasa jenis tersebut sekitar 8–12 kg dengan panjang dari kepala sampai ekor mencapai 1,2 meter.
Sebagaimana saudaranya kucing kampung lainnya, binatang ini kadang-kadang terlihat belang-belang tanpa menghilangkan warna spesifiknya. Binatang ini agak panjang dibanding dengan kucing biasa dan tidak pernah ditemui dengan warna hitam seluruhnya. Bagian belakang bundaran telinganya ada garis hitam pendek. 

Garis putih yang dibatasi warna putih terdapat di pipinya, yang muncul dari sudut bagian dalam matanya. Bagian perutnya selalu berwarna lebih terang dibanding bagian pinggulnya.
Kucing emas (Pardofelis Temminckii) adalah kucing misterius dan sarat mitos dari belantara hutan sumatera. Misterus, lantaran kucing emas sangat sulit ditemukan di habitat aslinya. Pola hidupmya belum banyak diketahui dibanding jenis kucing hutan Indonesia lainnya.

Kucing emas yang misterius ini termasuk hewan langka yang dikeramatkan oleh penduduk lokal.
Banyak mitos ghaib yang beredar dikalangan masyarakat lokal mengenai kucing emas ini, seperti sebagai binatang bertuah, bagian tubuhnya yang dapat dijadikan jimat, hingga menjadi penangkal teluh (santet). Mitos berkenaan kucing emas ini justru membuat kucing hutan ini semakin langka.
Kucing emas oleh beberapa penduduk lokal kadang disebut sebut sebagai ‘Harimau Kijang’, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan Asiatic Golden Cat, Golden Cat, atau Temminck’s Cat. Nama latin hewan ini adalah Pardofelis temminckii yang mempunyai sinonim Catopuma temminckii.

Diskripsi Fisik dan Perilaku. Kucing emas (Pardofelis temminckii) berukuran sedang (dua atau tiga kali kucing peliharaan). Panjang tubuh satwa ini berkisar antara 66-105 cm, dengan ekor sepanjang 40-57 cm, dan tinggi bahu 56 cm, sedangkan beratnya antara 9-16 kg.
Warna bulu kucing emas (Asiatic Golden Cat) bervariasi, mulai dari coklat keemas-emasan hingga coklat tua dan abu-abu. Pada pipinya terdapat bulu putih. Sedangkan bulu bagian perutnya berwarna lebih terang dari pada bagian punggung.


Kucing emas (Pardofelis temminckii) merupakan hewan nokturnal meskipun terkadang juga beraktifitas di siang hari. Lebih menyukai berburu dan berjalan di atas tanah ketimbang memanjat pohon, meskipun kemampuan memanjat dan berjalan di atas pohon pun sangat baik. Dengan ukurannya yang relatif besar, kucing emas mampu memangsa berbagai burung, tikus besar, reptil, kambing, rusa muda hingga anak kerbau.

Friday, 21 September 2018

Harimau Siberia (Panthera Tigris Tigris)

Harimau Siberia (Panthera tigris tigris) juga biasa disebut dengan nama harimau Amur. Hewan ini adalah pemuncak rantai makanan di lingkungan hidupnya.  Populasi harimau Amur saat ini terkosentrasi diwilayah pegunungan Sikhote Alin di provinsi Primorye barat di Timur Jauh Rusia. Pad masa sebelumnya Harimau Siberia pernah menguasai seluruh daratan Korea, Cina timur laut, Rusia Timur Jauh, dan Mongolia timur.  Harimau Siberia juga disebut sebagai harimau Manchuria, harimau Korea, dan harimau Ussur, nama nama tersebut tergantung pada wilayah di mana harimau Siberia tinggal.

Selama lebih kurang satu dekade terakhir perkembangan harimau Amur terbilang cukup signifikan terbukti dari hasil survey  Pada tahun 2005 terdapat 331-393 harimau Siberia dewasa yang mendiami di wilayah ini.  Populasi harimau dewasa yang produktif telah mendorong angka krisis pada era sebelumnya dan membuat kemungkinan berlanjutnya keturunan mereka dikemudian hari. Terdapat sekitar lebih kurang harimau dewas yang produktif dan terus berkembang biak dalam pengawasan ketat badan konservasi harimau setempat.

Angka ini menjadi lebih menggembirakan setelah pada tahun 2015 kembali dirilis hasil sensus awal yang menunjukkan bahwa populasi harimau Siberia telah meningkat menjadi dari 331-393 menjadi 480-540 ekor di Timur Jauh Rusia. Angka angka ini merilis kelahiran sebanyak 100 anak harimau jantan dan kemudian diikuti oleh hasil sensus yang lebih terperinci dan berhasil menguak fakta baru yang fantastis bahwa terdapat kelahiran sebanyak 562 anak harimau Siberia liar di seluruh Rusia.

Harimau Siberia juga pernah menghuni Semenanjung Korea, Manchuria dan bagian lain dari Cina timur laut, bagian timur Siberia dan Timur Jauh Rusia sampai jauh kebarat Mongolia dan daerah Danau Baikal daerah endemik harimau Kaspia yang telah musnah. Namun Harimau Amur yang hidup di Semenanjung Korea diburu sampai habis oleh kolonial Jepang selama masa pendudukan Jepang di semenanjung korea. Harimau Siberia terakhir di Korea Selatan terbunuh pada tahun 1922.

Daya jelajah harimau amur sangat luas yaitu meliputi wilayah timur Jauh Rusia membentang dari selatan sampai ke utara sejauh hampir 1.000 km hingga daerah Primorsky Krai dan terus masuk jauh ke selatan Khabarovsk Krai timur dan selatan Sungai Amur. Hal serupa juga terjadi di dalam wilayah Xing'an Besar yang melintasi Rusia dari arah China di beberapa tempat di Primorye barat daya. Di kedua wilayah, puncak umumnya 500 sampai 800 m diatas permukaan laut namun dalam beberapa kasus mampu mencapai ketinggian 1.000 m atau lebih. Wilayah ini merupakan zona penggabungan dua komposisi iklim yang berbeda. Komplek konifera Asia Timur dan kompleks boreal utara, menghasilkan tipe hutan mosaik yang bervariasi dengan elevasi, topografi dan sejarah unik. Habitat utama harimau Siberia adalah hutan pinus pinus dengan komposisi dan struktur yang kompleks.

Keragaman fauna di wilayah ini diwakili oleh berbagai komposisi flora dan fauna di Benua Asia dan Wilayah Campuran. Kompleks berhidung ungulat diwakili oleh tujuh spesies dengan rusa wortel Manchuria, rusa Siberian, dan babi hutan yang paling umum ditemukan di pegunungan Sikhote-Alin namun jarang ditemukan di dataran cemara cemara dataran tinggi. Rusa Sika dibatasi di bagian selatan pegunungan Sikhote-Alin. Rusa Sikian musk dan rusa Amur dikaitkan dengan hutan konifer dan berada di dekat batas selatan distribusi mereka di pegunungan Sikhote-Alin tengah.

Dalam beberapa kasus Harimau Siberia sering dianggap sebagai harimau terbesar walaupun faktanya kini harimau Bengal lah kemungkinan menjadi yang terbesar. Bobot Harimau dewasa bisa mencapai angka 318 kg sampai dengan 384 Kg dengan total panjang tubuh mencapai angka 350 cm.  Harimau termasuk dalam CITES Appendix I, yang melarang semua jenis perdagangan internasional tentang seluruh bagian bagian tubuh harimau. Semua negara bagian dan negara-negara dengan permintaan pasar tertinggi telah melarang perdagangan harimau secara khusus. 

Harimauku.. Harimaumu.. Harimau Kita..Jangan Sampai Punah..

Harimau adalah spesies yang terancam punah. Perburuan untuk mendapatkan bulu dan bagian bagian tubuhnya yang lainnya semakin marak belum lagi aksi aksi penghancuran habitat mereka secara massive telah membuat harimau tergusur dari wilayahnya dan terancam punah karena populasi yang terus menurun setiap tahunnya. Pada awal abad ke-20-an diperkirakan ada lebih dari 100.000 harimau di alam bebas, namun populasi tersebut telah menyusut drastis menjadi antara 1.500 dan 3.500.

Keadaan ini diperburuk lagi dengan tingginya angka permintaan pasar gelap obat tradisonal China terhadap bagian bagian tubuh harimau sebagai bahan dasar pembuatan berbagai ramuan obat obat tradisonal yang telah digunakan secara turun temurun. Tingginya permintaan disinyalir sebagi salah satu ancaman utama bagi eksistensi dan populasi harimau. Populasi harimau liar global saat ini diperkirakan oleh World Wide Fund for Nature mencapai angka 3.200 ekor pada tahun 2011 dan 3.890  ekor pada tahun 2015 dan merupakan fakta menakjubkan dalam satu abad terakhir ini.

Dalam situasi krisis ini masih terdapat rumah yang nyaman bagi salah satu sub spesies harimau yang masih tersisa. Ya India adalah rumah bagi populasi harimau liar terbesar di dunia namun hanya 11% habitat asli harimau asli India dan telah terfragmentasi. Sensus 2014 memperkirakan populasi harimau sebanyak 2.226 ekor, hal ini mengalami peningkatan sebanyak 30% sejak tahun 2011 yang lalu.

Pada tahun 1940-an, harimau Siberia berada di ambang kepunahan dengan hanya meninggalkan sekitar 40 ekor harimau Amur yang tersisa di alam liar di Rusia. Situasi ini segera diantisipasi oleh USSR dengan membentuk kontrol anti perburuan dan jaringan zona perlindungan yang(zapovedniks) dilembagakan hingga populasi harimau Siberia dapat diselamatkan dengan meningkatnya jumlah populasi mereka dialam liar.

Situasi aman bagi harimau Amur berubah sejak awal tahun 1990-an, saat USSR ambruk Perburuan dan pembabatan hutan illegal kembali menjadi masalah serius. Situasi ekonomi Rusia sebagai pengganti USSR masih terbilang krisis hingga menemukan kendala serius dalam melestarikan spesies harimau dengan daya jelajah wilayah yang sangat luas.

Satu ekor harimau jantan dan betina membutuhkan areal seluas 450 km2 sebagai wilayah kekuasaan mereka. Upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah Rusia dan LSM  setempat dengan menggandeng organisasi internasional, seperti World Wide Fund for Nature dan Wildlife Conservation Society sebagai mitra pada akhirnya membuahkan hasil yang cukup manis terhadap masa depan harimau amur dengan meningkatnya populasi mereka dalam satu abad terakhir ini.

Secara historis, harimau telah diburu dalam skala besar sehingga kulit bergaris mereka yang terkenal bisa dikumpulkan. Perdagangan kulit harimau memuncak pada tahun 1960an, tepat sebelum upaya konservasi internasional mulai berlaku. Pada tahun 1977, kulit harimau di pasar Inggris dianggap bernilai US $ 4.250. Banyak orang di China dan bagian lain di Asia memiliki keyakinan bahwa berbagai bagian harimau memiliki khasiat obat, termasuk sebagai pembunuh rasa sakit dan afrodisiak. Tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung keyakinan ini.

China yang sebelumnya selalu menolak gerakan konservasi lingkungan yang dilakukan Negara Negara Barat mulai mengubah pendiriannya pada tahun 1980-an dan menjadi bagian penting dari pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian CITES. Perubahan pandangan Negri Tirai Bambu pada tahun 1993 telah membuahkan sebuah aturan baru dengan melarang perdagangan bagian-bagian tubuh harimau dinegaranya sebagai bahan dasar untuk pengobatan tradisional Tiongkok.

Penggunaan bagian harimau di obat-obatan farmasi di China sudah dilarang, dan pemerintah telah melakukan beberapa pelanggaran sehubungan dengan perburuan harimau yang dapat dihukum mati. Selanjutnya, semua perdagangan di bagian harimau adalah ilegal di bawah Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar dan larangan perdagangan domestik telah dilakukan di China sejak tahun 1993.

-------------------------------------------------------->>BERSAMBUNG

Harimau Sumatera ( Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau sumatera (bahasa Latin: Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.

Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari. Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau sumatera terbunuh antara tahun 1998 dan 2000.


Harimau sumatera adalah subspesies harimau terkecil. Harimau sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain.

Warna kulit harimau sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Harimau sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Harimau sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Makanan harimau sumatera tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping.

Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau. Harimau sumatera juga gemar makan durian. Harimau sumatera juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).

Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 dalam undang-undang nomor 5 tahun 1990 poin (d) bahwa "setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta.

Friday, 14 September 2018

Kucing bakau ( Prionailurus Viverrinus )


Kucing bakau ( Prionailurus Viverrinus ) adalah kucing liar berukuran sedang di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 2008 IUCN mengklasifikasikan kucing ini terancam punah karena mereka terkonsentrasi terutama di habitat lahan basah, yang semakin sering di jadikan permukiman manusia, dirusak dan diubah.

Kucing bakau adalah yang terbesar dari kucing Prionailurus. Ukuran kucing bakau sekitar dua kali kucing domestik. Wajah yang memanjang dengan hidung khas yang datar. Bagian bawah tubuh berwarna putih, dan bagian belakang telinga berwarna hitam dengan bintik-bintik putih ditengahnya. Ada sepasang garis gelap di sekitar tenggorokan, dan sejumlah cincin hitam di ekor.

Panjang kepala sampai badan mereka biasanya berkisar 57-78 cm, dengan ekor pendek 20-30 cm . Berat kucing ini 5-16 kg. Bintik hitam berjalan longitudinal di seluruh tubuh, dan enam sampai delapan garis gelap terdapat dari belakang mata sampai ke tengkuk. Bagian bawah bulu lebih panjang dan sering dilapis dengan bintik-bintik.

Kaki kucing bakau kurang sepenuhnya berselaput daripada macan tutul kucing, cakar mereka tidak lengkap berselubung. kaki Webbed sering tercatat sebagai karakteristik dari kucing bakau, tapi anyaman di bawah jari-jari kaki tidak jauh lebih berkembang daripada kucing hutan.
Selama beberapa dekade terakhir, populasi kucing bakau di banyak habitatnya di Asia menurun derastis. Seperti kerabat terdekatnya, kucing kuwuk, kucing bakau hidup di sepanjang sungai dan rawa-rawa bakau. Kucing bakau beradaptasi dengan habitatnya dan menjadi perenang yang terampil.
Fishing cat (Prionailurus viverrius), spesies kucing liar berukuran sedang yang ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 2008, IUCN mengklasifikasikan kucing ini sebagai terancam punah karena kucing ini hanya terdapat di daerah yang dekat dengan lahan basah yang sekarang semakin rusak dan banyak lahan basah yang beralih fungsi.

Selama dekade terakhir, populasi kucing bakau di Asia menurun sangat tajam. Seperti hubungan kekerabatan terdekat, macan tutul, kucing bakau tinggal di sepanjang sungai, sungai dan rawa-rawa bakau. Karena habitat kucing bakau, kucing spesies ini beradaptasi dengan menjadi perenang dan penangkap ikan (Mukherjee dan Sanderson, dkk., 2010).

Bulu kucing bakau berwarna olive keabu-abuan dengan bintik-bintik gelap dalam goresan horisontal sepanjang tubuh. Bagian bawah putih, dan bagian belakang telinga berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Ada sepasang garis-garis gelap di sekitar leher, dan sejumlah cincin hitam di ekor.

Kucing bakau dewasa ukurannya sekitar dua kali ukuran kucing domestik, dengan kepala dan tubuh panjang yang biasanya berkisar dari 57-78 cm, dan ekor memiliki panjang berkisar 20 sampai 30 cm. Beberapa individu telah dilaporkan jauh lebih besar hingga 115 cm panjang kepala sampai badan. Kucing bakau dewasa berat badannya mencapai 5-16 kilogram (11-35.

Mereka memiliki tubuh kekar, berotot dengan kaki pendek, dan ekor pendek dari satu setengah sampai sepertiga panjang sisa tubuh hewan. Wajah memanjang dengan hidung jelas datar dan telinga jauh dari muka. Jari-jari kaki pada kaki depan sebagian berselaput, dan ujung-ujung cakar menonjol dari selubung, cakar bahkan sepenuhnya ditarik. 

Selaput antar jari membantu mereka untuk beradaptasi dilingkungan berlumpur dan berair. Daerah Penyebaran kucing bakau memanjang dari Pakistan timur melalui wilayah Terai dari kaki bukit Himalaya di India dan Nepal ke Bangladesh dan di Sri Lanka. Tidak ada catatan dikonfirmasi dari Semenanjung Malaysia dan Vietnam.

Pulau Jawa merupakan batas timur dari jangkauan mereka, tetapi pada tahun 1990-an mereka mulai langka dan tampaknya terbatas pada hutan pasang surut dengan pantai berpasir atau berlumpur, berdiri bakau tua, dan daerah mangrove sebagai habitatnya telah ditinggalkan karena daerah penanaman mangrove diganti dengan tambak.

Mereka sangat terkait dengan lahan basah, dan biasanya ditemukan di rawa-rawa dan daerah berawa, danau oxbow, alang-lang sebagai tempat tidur, anak sungai pasang surut dan kawasan mangrove, serta bergerak cepat sungai. Seiring aliran air kucing bakau telah tercatat pada ketinggian sampai dengan 1525 m (5003 ft) di Himalaya India, tetapi sebagian besar catatan berasal dari daerah dataran rendah.

Kucing bakau hidup soliter dan merupakan hewan nocturnal. Mereka sangat banyak di rumah dalam air dan bisa berenang jarak jauh bahkan di bawah air. Kucing bakau betina telah dilaporkan berkisar lebih dari bidang 4-6 km, sedangkan pada kucing bakau jantan berkisar lebih dari 16 sampai 22 km.
Kucing bakau dewasa telah diamati untuk membuat suara “tertawa” dan kemungkinan memiliki suara panggilan lain yang mirip dengan kucing domestik. Seperti namanya, mangsa utama kucing ini adalah ikan. 

Moluska, reptil dan amfibi juga diambil sebagai diet kucing bakau. Mereka berburu bersama tepi sungai, meraih mangsa dari air, dan kadang-kadang menyelam lebih dalam untuk menangkap mangsanya jauh dari tepi sungai. Mereka menandai wilayah mereka dengan menggosok pipi, menggosok kepala, menggosok dagu, menggosok leher dan mengeluarkan urine untuk meninggalkan tanda aroma.

Kucing bakau dapat kawin pada setiap saat sepanjang tahun, meskipun paling sering antara Januari dan Februari. Betina membangun sarang di daerah terpencil seperti semak padat dan alang-alang, dan melahirkan 2-3 anak kucing setelah periode kehamilan 63-70 hari. Anak-anak kucing beratnya sekitar 170 g (6.0 oz) pada saat lahir, dan dapat aktif bergerak sekitar usia satu bulan.

Mereka mulai bermain di air dan mengambil makanan padat sekitar dua bulan, tetapi tidak sepenuhnya disapih selama enam bulan. Anak kucing bakau mencapai ukuran dewasa penuh sekitar delapan setengah bulan, mendapatkan gigi dewasa mereka pada sebelas bulan, dan matang secara seksual pada lima belas bulan. Mereka hidup sampai sepuluh tahun di penangkaran (Sunquist dan Sunquist, 2002).

Kucing bakau terancam punah karena ketergantungan mereka pada lahan basah, yang terus menerus berkurang dan dikonversi untuk lahan pertanian, dan juga karena manusia mengeksploitasi stok ikan lokal secara berlebihan. Spesies Kucing Bakau karena ancaman-ancaman tersebut diyakini telah punah di Afghanistan, dan mungkin sudah pergi dari Malaysia dan China, dan telah menjadi langka di seluruh sisa jangkauan penyebaran populasi kucing bakau.

Kucing Bakau masuk dalam katagori terancam punah, dan statusnya dilindungi oleh undang-undang disebagian besar daerah penyebaran kucing bakau. Berburu kucing bakau dilarang di Bangladesh, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Thailand. Tetapi peraturan berburu tidak berlaku di beberapa negara seperti Laos, Bhutan, dan Vietnam. Spesies ini tidak mendapat perlindungan di luar kawasan hutan lindung.


Tuesday, 6 March 2018

Harimau Benggala ( Panthera Tigris Tigris )

Harimau Benggala adalah satu dari lima jenis spesies harimau yang terancam punah (sub-spesies lainnya adalah harimau Siberia, Indo-China, Malayan dan harimau Sumatra).

Harimau Benggala ( Panthera tigris tigris ) atau secara umum dikenal oleh masyarakat luas dengan nama harimau Benggala adalah salah satu spesies harimau yang paling besar diantara semua sub spesies harimau yang ada di jagad raya ini, hanya beda tipis dengan kerabat dekatnya Harimau Siberia yang juga tinggi besar dan sangat gagah.

Hewan anggun ini memiliki bobot sekitar 200 hingga 280 kilogram dengan panjang mencapai 3 meter serta tinggi badannya mencapai 100 cm saat dia mencapai usia dewasa. Di alam liar populasinya diperkirakan berjumlah lebih kurang sekitar 2000-2.500 ekor saja. Angka ini terbilang kritis karena habitat Harimau Bengala cukup luas meliputi beberapa negara diasia tengah dan tenggara, seperti India, China, Nepal, Bhutan, Bangladesh dan Myanmar.

Harimau Benggala terbilang harimau yang paling tangguh dari semua jenis keluarga harimau yang ada karena mampu bertahan dengan berbagai kondisi cuaca alam mulai dari pegunungan dingin bersalju di Himalaya hingga hutan bakau Sundarbans yang panas dan lembab. Ukuran mangsanyapun cendrung lebih ekstrim dari harimau harimau lainnya mulai dari rusa, babi hutan, kelinci, bahkan beberapa hewan buas lain seperti macan tutul, serigala, leopard, hingga buaya dan kerbau liar yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Sebagai pemburu soliter kemampuan Harimau Bengala tidak perlu diragukan lagi.


Harimau Benggala memiliki warna kulit oranye hingga kuning keemasan dengan garis hitam atau cokelat pekat. Ekornya berwarna putih dengan garis-garis hitam yang anggun. Setangguh-tangguhnya dan segagagahnya Harimau Benggala ternyata tak segagah dan setangguh manusia. Sang Raja kini semakin terdesak oleh populasi manusia yang terus meledak hingga menggerus apa saja yang terdapat dimuka bumi ini. Manusia semakin menjadi jadi, Taring dan cakar Harimau pun mereka incar juga, tak puas hanya dengan menggusur wilayah Harimau mereka juga inginkan Harimau sebagai pakaian bernilai tinggi, pajangan serta obat warisan pusaka nenek moyang yang katanya mujarab.

Dirilis tigers-world.com, beberapa laporan menyebutkan bahwa beberapa Harimau Bengala yang terdesak karena kelaparan atau terluka hingga tidak mampu berburu dengan baik akan menyerang mangsa apapun yang dianggapnya lemah termasuk menyerang dan memakan manusia. Padahal dalam keadaan normal kebanyakan harimau lebih memilih menjauhi manusia.

Karena angka populasi yang semakin menurun setiap tahunnya akibat tergerus arus globalisasi dunia akhirnya pada awal tahun 1970an pemerintah India membuat sebuah lembaga konservasi yang khusus menangani habitat dan kelangsungan hidup harimau Benggala serta menjadikannya salah satu hewan nasional yang dilindungi di India.

Konservasi ini dilakukan oleh pemerintah India mengingat habitat terbesar Harimau Bengala terdapat dinegaranya hingga mengharuskan pemerintah India untuk melakukan beberapa tindakan strategis agar jumlah populasi Harimau bengala tidak terus menerus mengalami penurunan akibat konflik wilayah dengan populasi manusia.


LET’S SAVE OUR TIGER

Monday, 5 March 2018

Harimau China Selatan (Panthera Tigris Amoyensis)


Harimau Cina Selatan atau Harimau China Selatan (Panthera tigris amoyensis), juga dikenal sebagai Harimau Amoy atau Harimau Xiamen adlah satu subspesies harimau yang berasal dari hutan-hutan China Selatan. Harimau Cina Selatan adalah subspecies harimau yang paling terancam punah dari semua jenis subspecies harimau yang masih ada.

Mereka adalah subspesies harimau yang paling terancam punah saat ini. Bahkan mereka juga pernah masuk dalam 10 binatang paling terancam punah di dunia. Diperkirakan saat ini hanya ada sekitar 59 ekor harimau Cina Selatan, dimana semuanya berada di Cina

Kritis (IUCN 3.1)[1]
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas:  Mammalia
Ordo:  Carnivora
Famili:  Felidae
Genus: Panthera
Spesies:  P. tigris
Upaspesies: P. t. amoyensis
Nama trinomial
Panthera tigris amoyensis
(Hilzheimer, 1905)

Para pakar menegaskan bahawa hanya ada kurang daripada 20 ekor harimau ini yang tinggal di dunia, hal ini bisa saja berakit fatal dengan kepunahan apabila usaha-usaha untuk melestarikan keberadaannya tidak serius dilakukan.

Baru baru ini terdapat kabar menggembirkan dengan lahirnya seekor anak yanghidup dalam perawatan yang baik di salah satu penangkaran harimau Afrika Selatan pada bulan November 2007. Kejadian luar biasa ini adalah hal pertama yang terjadi diluar daratan cina.

Pada Oktober 2007 jawatan perhutanan kaunti Zhenping diwilayah Shaanxi, menerbitkan sebuah foto Pathera Tigris Amoyensis dalam habitat aslinya tetapi setelah dilakuakan berbagai penelitian ternyata foto tersebut terbukti palsu .

Harimau Cina Selatan dianggap sebagai subspecies yang menjadi leluhur semua jenis harimau yang ada karena itu keberadaab dan kelestariannya adalah salah  satu bagian penting dalam sejarah keberadaan harimau dimuka bumi ini. Apalaagi statusnya merupakan satu dari sepuluh jenis hewan paling terancam di dunia.

Monday, 26 February 2018

Harimau Indochina ( Panthera Tigris Corbetti )


Harimau Indocina diperkirakan masih hidup bebas di wilayah di Myanmar, Thailand dan Laos, sementara ditempat lain belum tercatat lagi keberadaannya sejak tahun 1997. menurut data-data valid yang tersedia di beberapa negara endemik harimau Indocina seperti Kamboja, Vietnam dan Tiongkok dapat dipastikan sudah tidak ada lagi individu yang tersisa baik dialam liar maupun didalam penangkaran. Di Myanmar harimau indochina mendapatkan tempat yang cukup layak untuk melanjutkan eksistensi mereka. Keberadaan harimau dapat kita jumpai di Lembah Hukawng, Suaka Margasatwa Tamanthi dan di dalam dua wilayah kecil lainnya  di distrik Tanintharyi. sebelum masa sekarang ini harimau indochina sempat berkeliaran di areal Bukit Tenasserim yang merupakan daerah penting perkembang biakan alami harimau indochina, namun apa daya meningkatnya jumlah penduduk serta tuntutan keadaan ekonomi membuat penduduk melakukan banyak penebangan liar dan perburuan harimau secara berkala. 

Sementara di Thailand lebih dari separuh dari total populasi bertahan di komplek konservasi Western Forest  terutama di kawasan Suaka Margasatwa Huai Khaeng. Habitat ini terdiri dari hutan sub tropis dan subtropis lembab. Di Cina secara historis di provinsi Yunnan dan Kabupaten Mêdog di bagian barat daya negara itu, di mana harimau mungkin tidak dapat bertahan lagi hari ini.  Habitat harimau Indocina adalah hutan, padang rumput, pegunungan dan perbukitan namun secara spesifik mereka lebih menyukai hidup dihabitat hutan seperti hutan hujan tropis, hutan cemara, hutan gugur, hutan broadleaf kering tropis dan subtropis. Hewan ini bersikap sangat soliter hingga perilaku mereka sangat sulit untuk diamati dan dipelajari di alam liar, hanya sedikit saja pengetahuan tentang perilaku mereka yang dapat di kumpulkan oleh para ahli dan peneliti.

Mangsa utama hewan ini umumnya adalah mamalia liar berukuran sedang dan besar. Seperti rusa sambar, babi hutan, serow, dan banteng dan gaur remaja terdiri dari sebagian besar makanan harimau Indocina. Namun, di sebagian besar populasi hewan besar di Asia Tenggara telah benar-benar habis karena perburuan liar, mengakibatkan apa yang disebut "sindrom hutan kosong" - yaitu hutan yang terlihat utuh, namun sebagian besar satwa liar telah dieliminasi.  Beberapa spesies mangsa, seperti rusa kouprey dan Schomburgk, punah, dan Rusa Elder, babi hutan, dan kerbau liar hanya terdapat dibeberapa wilayah khusus. Dalam situasi seperti ini harimau dipaksa untuk hidup dengan mangsa yang lebih kecil, seperti rusa muntjac, landak, kera dan babi hutan. Mangsanya sendiri hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi karnivora besar seperti harimau, dan tidak cukup untuk reproduksi harimau. Faktor ini, yang dikombinasikan dengan perburuan harimau secara langsung untuk pengobatan tradisional Tiongkok, merupakan kontributor utama dalam keruntuhan harimau Indocina sepanjang jangkauannya.

Ancaman utama harimau Indocina adalah manusia. Manusia memburu harimau Indocina untuk memanfaatkan bagian tubuh mereka untuk hiasan dan berbagai obat tradisional Timur. Harimau Indocina juga menghadapi hilangnya habitat. Manusia merusak habitat alami mereka, mengembangkan lahan industri dan merusak komposisi tanah.  Meskipun ilegal, perdagangan bagian-bagian tubuh harimau di pasar gelap telah banyak memberikan keuntungan yang sangat besar. Meskipun ini melanggar hukum dan menjadi salah satu  profesi yang tidak disukai oleh sebagian masyarakat tetapi karena tuntutan kebutuhan hidup karena ekonomi yang pas pasan telah membuat mereka tetap nekat melakukannya.

Harimau adalah salah satu sub spesies hewan dengan kasta tertinggi di hampir semua system ekosistem hutan. Ketika predator puncak mengalami penurunan atau bahkan benar-benar musnah dari ekosistem akan ada konsekuensi serius dan tentunya akan menggangu semua system jaringan mata rantai makanan dan mengganggu berfungsinya ekosistem secara tepat. Mereka mengendalikan pertumbuhan dan penurunan populasi dan meningkatkan keanekaragaman spesies. Dari seluruh subspesies harimau, harimau Indocinalah yang paling sedikit terdapat didalam penangkaran dan kadang bukan merupakan bukan dari program pengembangbiakan yang tersitem dengan baik. Pada tahun 2007 terdapat 14 individu yang dikenali sebagai harimau Indocina berdasarkan analisis genetik 105 harimau yang ditangkap sebagai keperluan penelitian di 14 negara Asia. 

Friday, 2 February 2018

Harimau Malaysia ( Pathera Tigris Jacksoni )

Memasuki abad 21 ini Harimau Malaya telah terdaftar sebagai salah satu satwa yang masuk dalam katagori Critically Endangered Spescies. Hal ini disebabkan dengan beberapa fakta fakta baru yang menunjukkan bahwa jumlah harimau malaya mungkin tak kurang dari 250 saja di alam liar dan terus menurun dalam satu generasi kebawahnya.

Populasinya terus menurun dari sekitar 3.000 ekor pada tahun 1950-an menjadi sekita 500 ekor saja pada era 1990-an dan jumlah ini terus menurun selama dekade awal abad 21 hingga sekarang ini dengan perkiraan angka harimau dialam bebas menjadi 250 sampai 340 ekor pada tahun 2013. 
Menurut Malaysia. Hal tersebut telah mengindikasikan penurunan jumlah yang cukup signifikan dengan presentase mencapai angka 25% dari generasi terakhir harimau malaya. 

Akibat konflik global antara harimau dan kepentingan industrial manusia maka habitat harimau telah menurun tajam dari lahan seluas 98.818 km2 sebelum tahun 1970-an menjadi 75.079 km2 pada tahun 1980-an dan menjadi 55.387 km2 pada tahun 2000-an. Penurunan ini terbilang sangat besar setiap memasuki satu dasarwarsa setiap kalender tahunan berganti.


Pada tahun 2005 yang lalu pemerintah Malaysia menugaskan Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditi untuk memulai program agresif untuk mengembangkan hutan tanaman di seluruh Malaysia. Indikasi ini akan mengakibatkan hilangnya sejumlah habitat harimau karena pemerintah Malaysia telah memulai perluasan program penanaman hutan komersial menjadi 3.750 km2 selama periode 15 tahun dari tahun 2006 sampai 2020 sambil memberikan pinjaman lunak dan insentif pembebasan pajak pada tahun 2009 yang lalu.

Angka angka penurunan bisa saja terus terjadi karena selain penyusutan habitat alaminya, harimau juga mengalami serangkaian terror pembunuhan untuk komersial. Perburuan dan perdagangan bagian bagian tubuh harimau masih terbilang cukup tinggi. Ancaman terhadap Harimau dari aktifitas perdagangan gelap di gambarkan secara gamblang melalui peristiwa sepanjang 2012  yang telah berhasil mewaskan setidaknya 22 ekor harimau Malaysia dan terbongkarnya sindikat Internasional perdagangan harimau. Tidak hanya itu otoritas setempat juga berhasil menemukan setidaknya 952 buah jerat harimau yang dipasang oleh para pemburu gelap dari berbagai penjuru dunia.

Selain ancaman hebat terhadap harimau ternyata situasi harimau juga tidak semakin baik di alam liar dengan hilangnya berbagai sumber makanan dan buruannya oleh aktifitas perburuan gelap. Menghilangnya sumber makanan seperti seperti Sambar Rusa, Bearded Pig Sus barbatus dan Banteng Bos javanicus. Diyakini akan semakin menghambat usaha usaha konservasi harimau itu sendiri karena hal tersebut merupakan salah satu faktor penting yang harus mampu dipulihkan oleh badan otoritas setempat dan masyarakat dunia pada umumnya. 

Dengan angka perkiraan populasi antara 250-340 harimau dewasa pada dasawarasa terkahir ini serta berkurangnya basis mangsa dan hutan alami sebagai habitat harimau. Masyarakat telah meminta pemerintah untuk menetapkan atau mendirikan sebuah Badan Konservasi Harimau Nasional agar secara efektif mampu mengkoordiniir dan memantau pelaksanaan konservasi Harimau dengan profesional. Badan ini juga diharapkan dapat membuat keputusan eksekutif mengenai kebijakan, alokasi sumber daya, penegakan dan pengelolaan lahan yang sesuai untuk konservasi Harimau. Untuk saat ini, upaya anti-perburuan di daerah prioritas diperkuat oleh tim penegakan multi-badan, termasuk personil militer. 

Dari berbagai sumber.