Showing posts with label Pena Harimau. Show all posts
Showing posts with label Pena Harimau. Show all posts

Tuesday, 6 March 2018

Panthera Tigris

Pada tahun 1758, Carl Linnaeus dalam karyanya yang berjudul  Systema Naturae untuk pertama kalinya memberi gambaran harimau secara ilmiah dan memberinya nama Felis tigris kemudian dalam kurun waktu 300 tahun berikutnya ahli taksonomi Inggris Reginald Innes Pocock Pada tahun 1929, mensubordinasikan spesies di bawah genus Panthera menggunakan nama ilmiah Panthera tigris.

Setelah deskripsi spesies pertama oleh Carl Linnaeus akhirnya beberapa spesimen harimau dideskripsikan dan diusulkan sebagai subspecies baru berdasarkan factor genetika dan habitat aslinya. Validitas beberapa subspesies harimau sempat dipertanyakan pada tahun 1999.

Pengkajian ulang sebagian besar subspesies yang diduga digambarkan pada abad ke-20 dibedakan berdasarkan panjang dan warna bulu, pola striping dan ukuran tubuh. Sehingga karakteristik yang sangat bervariasi dalam populasi dapat dibedakan secara morfologis dan aliran gen antar populasi di daerah tersebut dianggap telah terjadi selama jaman awal prasejarah sekitar 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu.

Karena rentan waktu yang amat panjang tersebut maka diusulkan untuk mengenali dua subspesies harimau yang valid yaitu Panthera Tigris Tigris di daratan Asia, dan Panthera Tigris Sondaica di Kepulauan Sunda Raya.

Hasil analisis kraniologi terhadap 111 tengkorak harimau dari negara-negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa tengkorak harimau Sumatera berbeda dengan tengkorak harimau Indocina dan harimau Jawa, sedangkan tengkorak harimau Bali serupa dengan tengkorak harimau Jawa. Para ahli genetik mengusulkan untuk mengklasifikasikan harimau Sumatera dan Jawa sebagai spesies yang berbeda Pathera Tigris Sumatrae dan Pathera Tigris Sondaica dan harimau Bali sebagai subspesies Pathera Sondaica Balica.

Pada tahun 2015, sifat morfologi, ekologi dan molekuler dari semua subspesies harimau putatif dianalisis dalam pendekatan gabungan. Hasil dari penelitian tersebut memberikan fakta positif yang sangat mendukung perbedaan dua kelompok evolusioner Benua Asia dan harimau Sunda. Validitas dari penemuan tersebut mendorong terjadinya pengakuan terhadap 2 subspesies harimau yaitu Pathera Tigris Tigris terdiri dari populasi harimau Bengal, Malaya, Indocina, Cina Selatan, Siberia dan Caspian sedangkan untuk Panthera Tigris Sondaica terdiri dari populasi harimau Jawa, Bali dan Sumatera.

Reklasifikasi baru yang lebih valid ini jelas akan mempengaruhi pengelolaan konservasi harimau diberbagai lokasi endemik harimau yang masih eksis tersisa dimuka bumi . Para pakar konservasi harimaupun memberikan respon positif atas penemuan ini, karena akan sangat memudahkan proses pengembangbiakan serta regenerasi anak anak harimau agar dapat melanjutkan kejayaan orang tua mereka.

Pendapat ini ataupun pendapat lama tentang harimau dan pembagian subspesiesnya tetaplah tidak bermanfaat apabila sosialisasi tentang status harimau yang sangat kritis tidak mampu menekan jumlah perburuan dan pembunuhan terhadap mereka serta berkurangnya penghancuran habitat mereka. Harimau tetap akan tergusur oleh kebengisan umat manusia dalam memanfaatkan alam raya. 

Usaha usaha konservasi telah banyak memberikan dampak yang sangat signifikan untuk kelanjutan eksistensi harimau yang tersisa tetapi ledakan populasi manusia yang akan berdampak pada invasi wilayah wilayah harimau akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. ( Save Our Tiger )

( Dioleh dari berbagai sumber dan Wikipedia )

Harimau Kucing Besar yang Tidak Selalu Soliter

Harimau adalah hewan teritorial yang sedikit berbeda dengan kucing besar lainnya walaupun pada faktanya mereka adalah hewan soliter namun dalam beberapa kasus justru harimau menjadi hewan yang memiliki sifat sosial paling tinggi diantara kucing-kucing besar lainnya. Seperti tertulis dari beberapa sumber yang valid harimau betina muda biasanya akan membangun wilayah pertama mereka dekat dengan tempat tinggal ibunya. Tumpang tindih wilayah kekuasaan betina muda dengan ibunya lama kelamaan akan mengendur dan hilang sama sekali.

Sedangkan untuk para pejantan muda biasanya akan berpetualang jauh meninggalkan tanah kelahirannya untuk membentuk daerah dan wilayahnya sendiri, Biasanya mereka akan mencari daerah tak bertuan alias belum ada pejantan dewasa yang mendiaminya andaipun mereka harus menumpang diwilayah kekuasaan harimau dewasa mereka akan menunggu hingga mereka cukup besar dan kuat untuk menantangnya dalam sebuah pertarungan satu lawan satu yang sengit. Pertarungan ini tak jarang banyak membunuh harimau muda akibat luka luka yang didapatinya dari pertarungannya dengan harimau dewasa.

Harimau biasanya menggunakan cakar dan urin untuk mengidentifikasi wilayahnya. Jantan dan betina menggunakan cara yang hampir sama dalam menjaga territorial kekuasaannya. Tanda-tanda guratan serta bau urinoir dari harimau juga menggambarkan identitas, status seks dan reproduksi dari harimau yang bersangkutan.

Meski sebagian besar harimau saling menghindari satu sama lainnya tetapi terkadang mereka tidak selalu bersifat teritorial dalam menjalani kehidupannya. Harimau dewasa dari jenis kelamin berbeda kadang-kadang akan berbagi hasil buruannya dengan harimau lain, bahkan dengan mereka yang mungkin tidak ada kaitan darah sama sekali.

Dari beberapa sumber valid disebutkan bahwa seekor harimau jantan dewasa berbagi hasil buruannya dengan dua ekor harimau betina dan empat ekor anaknya.  Walaupun sama sama kucing besar tetapi harimau jantan dewasa sangat berbeda dengan singa jantan. Harimau jantan sangat toleran tergadap betina dan anak anak harimau hingga keadaan dimana selayaknya singa jantan sedang menyantap hasil buruan kelompoknya tidak akan terjadi didalam kisah perburuan harimau. Harimau betina dan anaknya dapat memakan hasil buruan sang jantan secara bersama sama dengan suasana yang relative kondusif.

Suasana kekeluargaan ini digambarkan dengan baik didalam buku Tiger karangan Stephen Mills dimana penulis mencoba menyampaikan sesuatu yang sangat berbeda dari para singa dengan menggambarkan ritual menyantap mangsa keluarga harimau yang terjadi di Taman Nasional Ranthambhore.

Seekor Harimau betina dewasa yang biasa disebut dengan nama Padmini berhasil membunuh buruannya yang cukup besar yaitu seekor nilgai jantan dewasa seberat 250 kg. Antelop yang sangat besar ini menjadi bancakan dari banyak harimau yang kebetulan tidak berada jauh dari daerah perburuan Padmini. 2 betina dewasa dan seekor jantan dewasa serta ke 3 anak padmini bersama sama menyantap hasil buruan pada rentan waktu yang nyaris bersamaan dan tidak terjadi konflik sama sekali selama mereka menyantap hidangan tersebut. Tidak kurang terdapat sembilan harimau yang secara damai menikmati sajian khas harimau ala Taman Nasional Ranthambhore hasil buruan padmini.